Pada jaman dahulu kala, terdapat seekor induk kepiting yang sangat kelaparan.
"Aku harus makan sesuatu, kalau tidak, anak dalam perutku tidak akan tumbuh. Baiklah, aku akan pergi untuk mencari makanan."
Tepat pada saat itu, seekor monyet yang terlihat berandalan datang sambil memainkan dua kesemek yang tampaknya lezat. Kepiting menatap buah kesemek itu.
"Kamu ingin makan ini ya? Enak loh!"
Kepiting merasa gembira karena ia mengira akan diberi kesemek itu. Tetapi...
"Makan ini saja!"
Monyet melemparkan biji kesemek kepada kepiting. Alangkah jahatnya monyet itu.
"Oh, enaknya...."
Monyet memakan kesemek yang satu lagi dan sengaja memperlihatkannya kepada kepiting. Kepiting merasa kecewa lalu pergi untuk mencari makanan lagi.
Saat itu nasi kepal yang besar jatuh di tanah. Monyet juga melihatnya. Kepiting melompat ke arah nasi kepal itu dengan segala kekuatannya.
"Akulah yang menemukan ini dulu! Ini milikku!"
Monyet mendekati kepada kepiting sambil meringis.
"He, he he! Ayo berikan itu kepadaku."
"Tidak bisa! Ini milikku."


"Kalau begitu Kepiting, mari kita menukar nasi kepal itu dengan biji kesemek ini."
"Aku tidak bisa makan makanan seperti itu."
Kepiting itu marah, lantas monyet yang curang berkata, "Dari biji ini akan tumbuh pohon kesemek. Tidak lama kemudian pohon itu akan berbuah banyak, sampai-0sampai kamu tidak bisa memakan semuanya. Sedangkan kalau nasi kepal, begitu dimakan langsung habis."
Setelah berkata begitu monyet meletakkan biji kesemek di dekat kepiting, dan segera mengunyah nasi kepal.
"Hmm, lezat...."
Kepiting merasa begitu kecewa sampai-sampai air matanya keluar.
Apa boleh buat. Kepiting lantas bertekad menanam biji kesemek itu. Meskipun badan kepiting telah terhuyung-huyung karena lapar, ia terus mengayunkan cangkul sekuat tenaga, menggali lubang dan menanam iji kesemek.
"Cepatlah tumbuh biji kesemek. Kalau tidak aku akan memotongmu dengan capitku!"
Kepiting berteriak dengan sungguh-sungguh dan menuju tanah. Tanah itu mulai menggeliat-keluarlah pucuk tumbuhan yang kecil. Kepiting menggerakkan capitnya sambil menyiramnya dengan air.
"Tumbuhlah cepat , wahai pucuk kesemek. Kalau tidak aku akan memotongmu dengan capitku!"
Pucuknya segera tumbuh dengan cepat dan menjadi pohon yang besar.
"Berbuahlah cepat, wahai poho kesemek. Kalau tidak aku akan memotongmu dengan capitku!"
Benarkan keinginannya tercapai-pohon yang besar itu berbuah banyak dengan buah-buahan yang berwarna hijau. Buah-buahan yang berwarna hijau itu perlahan-lahan mulai memerah-tampaknya lezat. Usaha kepiting akhirnya membuahkan hasil.
Baiklah, aku makan saja, pikir kepiting. Ia berusaha naik pohon, ...sayangnya ia tidak bisa menjangkau buah kesemek.
Muncullah monyet yang jahat itu. Kepiting sangat terkejut. Sosoknya yang merah pucat pasi.
"Ini pohon kesemek milikku!"
"Tapi bagaimana kamu akan mengambilnya?" kata monyet.
Tanpa seizin kepiting ia segera naik pohon kesemek dengan mudah.
"Serahkan saja padaku. Aku akan mengambilkan buah kesemek yang enak untukmu."
Monyet itu mengambil buah kesemek yang berwarna merah tua. Kepiting menunggu di bawah pohon dengan penuh harap. Tiba-tiba monyet menggerogoti buah kesemek.
"Wah, enaknya...."
Monyet memakan satu demi satu buah kesemek terus-menerus seolah lupa akan kepiting.

"Hai monyet, tolong ambilkan juga untukku."
"Oya, aku lupa. Baiklah, aku akan mengambilkan untukmu juga."
Monyet mengambil buah yang hijau, lantas melemparnya ke arah kepiting. Aduh, kasihan sekali..., kepiting yang terkena lemparan buah yang keras menjadi terluka parah.
Pada waktu itu, kulit kepiting terbelah dan lahirlah riga ekor anak kepiting yang manis. Monyet memakan buah kesemek sampai kenyang, lantas pulang ke tempat tinggalnya.
Demikianlah beberapa hari berlalu. Induk kepiting mati akibat luka itu.




"Kita tidak akan lupa sama sekali akan monyet yang jahat itu," demikian janji tiga ekor anak kepiting.
Pada suati hari, anak-anak kepiting yang sudah tumbuh besar akhirnya keluar rumah untuk memberi pelajaran kepada monyet yang mereka benci itu.
Kastanye yang bertemu dengan mereka di tengah jalan menegur, "Ke mana kalian hendak pergi, wahai anak-anak kepiting?"
"Kami pergi untuk memberi pelajaran kepada monyet yang jahat itu."
"Oh, kalau begitu aku akan pergi bersama kalian."
Ternyata, dulu kastanye juga pernah diganggu oleh monyet itu.
Berikutnya mereka bertemu dengan lebah. Lalu tahi sapi, dan terakhir lesung. Mereka semuanya bertekad akan memberi pelajaran kepada monyet yang jahat itu.

Kastanye, lebah, tahi sapi dan lesung mulai berjalan menuju rumah monyet bersama anak-anak kepiting. Monyet itu adalah berandalan yang pintar. Siapapun tidak tahu kapan dan dari mana ia akan menyerang. Jadi lebah pergi untuk melihat keadaan rumah monyet itu.

"Monyet tidak ada di rumah sekarang!"
Mereka memutuskan untuk bersembunyi di dalam rumah dan menunggunya.
"Monyet itu pasti akan menghangatkan diri di perapian sambil mengeluh ’dingin, dingin’ segera setelah ia pulang ke rumah."
"Kalau begitu, aku akan bersembunyi di dalam abu, lalu nanti aku akan pecah dan mengejutkannya."
Kastanye masuk ke dalam abu. Kalau ia pecah, monyet akan menderita luka bakar. "Monyet akan berkata ’panas, panas!’ dan menuju ke tempayan untuk mendinginkan diri."
"Kalau begitu, aku akan bersembunyi belakang batang sendok besar, lalu menusuknya dengan sengatku yang runcing." Lebah pun bersembunyi.
"Monyet yang ditusuk lebah......., mungkin akan berkata ’sakit,sakit’ dan berlari keluar."
"Kalau begitu, aku menunggu di atas tempat sepatu dari batu di pintu depan," kata tahi sapi.
Kalau monyet menginjak-injak tahi sapi, pasti ia akan jatuh terpeleset. Lali, Lesung berkata, "kalau begitu, aku akan menunggu di atas atap. Aku akan jatuh di atas monyet yang telah jatuh duluan."
Anak-anak kepiting bersembunyi di dalam lesung. Semuanya menunggu kepulangan monyet. Belum ya, belum ya? Monyet tidak kunjung pulang. Namun, ketika urung gagak telah berkoak-koak dan hari menjadi senja, akhirnya si monyet datang juga.

"Wah, dingin, dingin...."
Sesuai dengan perkiraan mereka, monyet pergi ke dekat perapian....
"Leganya..., aku akan menghangatkan diri."
Saat itu kastanye yang terbakar sangat panas pecah. Ia mengenai monyet.
"Aduuuuh! Pa-panas...! Air, air!"
Seolah-olah telah menunggu, lebah segera menusuknya.
"Aduuuuh! Sakit, sakit..."
Monyet berlari ke arah pintu. Ia menginjak tahi sapi dan jatuh tergelincir. Lesung segera jatuh berbunyi gedebuk dan menginjak-injaknya. Monyet ynag berandalan telah mendapat pelajaran yang setimpal.

Anak-anak kepiting pun hidup bahagia dengan rukun dan bahu-mebahu.

By: Shito Naoko
pictures: www.greenstone.org


One Comment

Frachi mengatakan...

kyk yg ad d miiko x3